Eren’s Play: Checkmate!
Judul: Eren’s Play (Eren No Asobi)
Pengarang: Orihara Ran
Penerbit: DIVA Press
Tebal Buku: 320 halaman
Cetakan: Pertama, Juni 2017
Penyunting: Muhajjah Saratini
ISBN: 978-602-391-424-1
Tidak mencolok, dengan hawa keberadaan yang tipis (jadi
ingat Kuroko) dan nyaris tidak ada yang menyadari kehadirannya, begitulah Enomoto
Eren menjalani kehidupan sekolahnya setiap hari. Transparan dan tidak
kasatmata. Dengan berkacamata tebal, rambut yang dikepang sembarangan, dan pipi
pucat dipenuhi bekas jerawat yang kemerahan. Murid kelas satu SMA itu dengan
nyaman duduk di bangku paling belakang tepat di samping jendela.
Novel
ini merupakan karya Orihara Ran kedua yang saya baca. Sebelumnya, saya dibuat
jatuh cinta dengan novel Aidoru no Sekai ni Yoroshiku. Sebuah novel yang
menarik. Jadi, ketika mengetahui Orihara Ran mengeluarkan buku baru, saya pun
bergegas membelinya.
Cantik.
Itu hal pertama yang muncul di pikiran saya ketika melihat cover novel ini. Dengan
didominasi warna merah lembut (benar nggak
ya ini nama warnanya?), menampilkan ilustrasi seorang gadis berambut panjang dan
bergaun merah sedang duduk di antara bidak-bidak catur, membuat saya terpikat.
Cerita di novel ini dimulai dengan
kisah sekolah Enomoto Eren. Gadis cupu yang bersekolah di sebuah SMA swasta
yang terkenal dengan kepintaran murid-muridnya. Segala hal yang berkaitan
dengan Eren di sekolah tampak biasa-biasa saja, atau mungkin bisa dibilang agak
menyedihkan. Eren tak punya teman, kemana-mana selalu sendiri. Sibuk dengan
kehidupannya sendiri. Tapi, ternyata Eren mempunyai hobi yang unik. Hobi yang
selalu ia lakukan ketika istirahat sekolah.
Permainan
catur manusia. Eren senang sekali mengamati tindak-tanduk orang-orang
di sekitarnya. Ia menyukai beragam ekspresi yang ditunjukkan oleh manusia. Setiap
jam istirahat, Eren sibuk sekali memutari sekolah. Mencari ‘mangsa’ baru untuk
permainan ciptaanya itu. Sayangnya, seorang murid baru mengganggu kesenangannya
itu. Adalah Tezuka Kiriya, seorang laki-laki yang dianugerahi wajah menawan
dengan bola mata berwarna abu-abu dan tinggi yang menjulang. Kiriya selalu
menyedot perhatian di manapun ia berada. Di kantin, di kelas, di mana saja. Murid-murid
perempuan akan memandang dengan kagum dan terpesona, sementara para murid
laki-laki bersikap segan kepadanya.
Kiriya
tak membiarkan Eren sendiri setelah ia tahu bahwa gadis itu sedang melakukan
permainan catur manusia. Bertanya ini-itu. Penasaran. Akhirnya Eren merekrut
Kiriya. Menjadikannya partner (kalau kata Eren sih, anak buah). Berdua, mereka
melintasi sisi-sisi sekolah, mengamati banyak orang, melakukan catur manusia.
Jika
diamati, sebenarnya permainan catur manusia ini membuat Eren (dan Kiriya)
membantu beberapa teman yang terlibat masalah. Contohnya saja, masalah antara
Hamada Kaori, Akai Azuma, dan Omi Taiyou. Berkat campur tangan Eren (dan Kiriya
sebagai pesuruh, eh?), tiga sekawan itu berhasil memecahkan persoalan mereka
dan akur kembali.
Sekarang
Kiriya tahu satu kegiatan rahasia Eren. Bahkan ikut terlibat di dalamnya. Yap,
Kiriya yang dingin dan jarang bicara kini berteman dengan gadis penyendiri di
sekolah. Mungkin saja, Kiriya mengira hanya sebatas itulah Eren. Teman aneh
namun mengasyikkan. Namun, ternyata Eren masih mempunyai banyak rahasia lagi. Eren,
gadis itu memiliki berlapis-lapis kisah yang ia simpan sendiri. Tak ada
habisnya. Bahkan setelah hobinya itu, ia memiliki sebuah kisah masa lalu yang ia
bungkus rapat-rapat.
Saya
menyukai ceplas-ceplosnya Eren di
sini. Menghibur. Dan menurut saya, dibalik sikapnya yang kadang suka seenaknya
sendiri serta blak-blakan, Eren
mempunyai sisi polos. Ia seringkali tak mengerti mengapa celetukannya bisa
membuat orang lain tertawa, bahkan bersemu merah.
Membaca
novel ini membuat saya tahu satu dua hal tentang catur. Olahraga otak yang sama
sekali tak saya kuasai. Bertanding dengan komputer saja saya kalah melulu. Tidak
pernah menang sekalipun.
Mungkin
karena masih terbawa pesona novel Aidoru no Sekai ni Yoroshiku, saya memilki
ekspetasi yang tinggi terhadap novel Eren’s Play. Namun, agaknya saya merasa
sedikit (benar sedikit ini) turun melandai dari ekpetasi. Tokoh Eren memiliki
Reiga Braxton, yang menurut saya tokoh yang sedikit ‘menyebalkan’. Yah, mungkin
memang karakter Reiga dibuat seperti itu. Walaupun sebenarnya Reiga ini baik
dan perhatian. Digambarkan sempurna (kaya, tampan, punya keluarga yang
menyenangkan), Reiga memberi warna yang agak ganjil (menurut saya) untuk novel
ini. Serta, Kiriya. Ternyata tokoh ini tak begitu sering muncul di keseluruhan
cerita. Hem, hal yang sebenarnya tidak aneh (menilik ceritanya), tapi entah
mengapa, terasa agak mengganjal.
Terlepas
dari itu semua, Eren’s Play menghadirkan bungkusan yang menarik untuk dibuka
dan diteliti. Satu hal yang Eren lakukan di sini yang membuat saya kagum. Tekad
kuat dan sikap tak pantang menyerah. Eren benar-benar berusaha keras meraih
tujuannya. Dan yang terpenting, ia tahu bahwa pengalaman-pengalamannya di masa
lalu, akan membuatnya kuat. Tiga bintang untuk Eren’s Play. Checkmate!
Sumber gambar: divapress-online.com



Komentar
Posting Komentar